Australia Memberikan Bukti Baru Seputar Asal Muasal COVID19

Australia Memberikan Bukti Baru Seputar Asal Muasal COVID19

Australia Memberikan Bukti Baru Seputar Asal Muasal COVID19 – Asal usul virus Corona penyebab COVID-19 masih menjadi misteri. Meskipun sejumlah besar penelitian tentang virus corona baru atau SARS-CoV-2 telah dilakukan, belum ada yang bisa memastikan asal-usulnya.

Di awal kemunculannya, virus ini dianggap bersumber di sebuah pasar di China. Beragam spekulasi pun muncul mengenai asal usul virus Corona seperti klaim virus itu secara tidak sengaja bocor dari laboratorium.

Sebuah studi baru dari Australia memberikan bukti yang mematahkan teori COVID-19 bermula dari “kebocoran laboratorium”. Laporan studi yang dirilis via internet itu menyajikan bukti kuat yang mendukung teori ‘limpahan alami’ asal mula COVID-19

1. Pemeriksaan menggunakan pengurutan genetika
Cara Ampuh Mencegah Penyebaran Covid-19

Studi tersebut didasarkan pada pemeriksaan pengurutan genetika secara teliti dari dua garis keturunan awal dari orang-orang yang terinfeksi pada akhir 2019 hingga awal 2020. Kedua garis keturunan itu dibedakan oleh dua nukleotida di dua tempat utama yang berbeda dalam pengurutan gen.

“Seandainya terjadi peristiwa kebocoran laboratorium tunggal, pemisahan menjadi garis keturunan A dan B pasti sudah terjadi setelah kebocoran laboratorium,” tulis artikel yang juga dilansir Xinhua tersebut.

“Oleh karenanya kami berharap dapat menemukan sejumlah substansi dari garis keturunan perantara, dengan garis keturunan nukleotida A berada di satu tempat dan garis keturunan nukleotida B berada di tempat lain.”

2. Teori limpahan ini menunjukkan ‘kebocoran lab’ tidak terjadi
Penelitian di Australia Buktikan Virus Corona Bukan dari Kebocoran Lab

Artikel itu juga menyebut jika hampir semua pengurutan gen yang diperoleh dari manusia adalah murni garis keturunan A atau murni garis keturunan B, maka ini menunjukkan bahwa terdapat sedikitnya dua peristiwa limpahan berbeda, baik dari kelelawar langsung atau melalui inang perantara.

“Dan evolusi dari dua garis keturunan terjadi sebelum manusia terinfeksi.”

“Karena itu, bukti genetik dengan sangat kuat memperlihatkan bahwa terdapat sedikitnya dua peristiwa limpahan berbeda pada populasi manusia,” lanjutnya.

3. Asal muasal virus corona
Penelitian di Australia Buktikan Virus Corona Bukan dari Kebocoran Lab

Perdebatan tentang asal muasal virus corona terus berkembang hingga kini. Dugaan awal pada saat virus ini baru menyebar, virus corona berasal dari sebuah pasar di Wuhan, China. Namun, tim peneliti independen World Health Organization (WHO) yang menginvestigasi ke sana membantah kemungkinan itu.

Kemungkinan terbesarnya adalah pasar tersebut sebagai klaster awal penyebaran SARS-CoV-2. Namun, tidak ada bukti bahwa virus itu berasal dari sana. “Secara hipotesis, semua kondisi yang memungkinkan (virus) menyebar ada semua di sana,” kata Vladimir Dedkov, anggota tim peneliti WHO asal Rusia, dilansir dari Xinhua pada 7 Februari 2021.

Dedkov juga membantah teori virus corona yang bersumber dari laboratorium di Wuhan, seperti tudingan Amerika Serikat. Setelah sembilan peneliti WHO mengunjungi Institut Virologi Wuhan beberapa hari yang lalu, dia menjamin fasilitas laboratorium tersebut tidak memberikan peluang bagi virus untuk “berlalu-lalang”.

AS tidak puas dengan penelitian tersebut dan berniat menjalani investigasinya sendiri. Namun, hingga kini belum ada bukti kuat yang diumumkan.

Di lain pihak, China menuding balik AS. Epidemiolog senior China mengatakan AS harus menjadi prioritas dalam fase lanjutan terkait penyelidikan asal usul COVID-19. Peneliti tersebut mengatakan, besar kemungkinan virus itu telah beredar di AS sejak awal Desember 2019.

Epidemiolog itu mengutip sebuah studi yang diterbitkan oleh Institut Kesehatan Nasional AS (NIIH) pekan ini. Dilansir dari Channel News Asia, dikatakan bahwa tujuh orang di lima negara bagian AS telah terinfeksi SARS-CoV-2 beberapa minggu sebelum laporan resmi kasus pertama.

Menurut FactCheck, kerabat terdekat dengan SARS-CoV-2 diketahui adalah virus corona yang pertama kali diidentifikasi pada kelelawar tapal kuda di provinsi Yunnan, Cina, pada 2013.

Virus ini dikenal sebagai RaTG13, berbagi 96% genomnya dengan SARS-CoV-2. Namun, RaTG13 memiliki urutan genetik tertentu yang berarti tidak mungkin melompat langsung dari kelelawar ke manusia.

Virusnya pun cukup berbeda sehingga para peneliti percaya bahwa SARS-CoV-2 bukan keturunannya. Sebaliknya, diduga bahwa beberapa prekursor SARS-CoV-2 yang tidak diketahui melompat ke inang perantara dan inang ini menularkan virus ke manusia.