Berikut Adalah Update Perkembangan Kasus COVID-19 di Dunia

Berikut Adalah Update Perkembangan Kasus COVID-19 di Dunia

Berikut Adalah Update Perkembangan Kasus COVID-19 di Dunia – Tiga negara Asia Tenggara untuk sementara masuk daftar 10 negara dengan tambahan kasus harian tertinggi. Tiga negara tersebut yakni Filipina di posisi pertama dengan 18.056 kasus, Thailand di posisi ketiga dengan 11.786 kasus, dan Indonesia di posisi keenam dengan 4.128 kasus.

Namun perlu diingat, karena perbedaan waktu, beberapa negara mungkin belum melaporkan kasus harian terbaru. Dan Singapura sedang mengalami lonjakan kasus COVID-19 varian Delta tertinggi sejak setahun terakhir, meski 80 persen warganya sudah menerima vaksin lengkap. Stasiun berita Australia ABC, pada Senin (13/9/2021) melaporkan, cakupan vaksinasi yang sudah dicapai Negeri Singa tidak langsung menjadi jaminan kehidupan bisa kembali normal seperti sebelum ada pandemik COVID-19.

Pemerintah Singapura pun kembali membatasi pergerakan masyarakat. Sejak pekan lalu, Kemenkes Singapura melarang warga berkumpul di tempat kerja. Sebab, berdasarkan penelusuran, justru muncul klaster COVID-19 yang bermula dari kantin dan pantri di kantor. Kemenkes yakin para pekerja berkumpul di area tersebut dan melepas masker sehingga kasus kembali naik.

1. Indonesia baru capai 15 persen vaksinasi seluruh warga
[UPDATE] COVID-19 di Singapura Naik Meski 80 Persen Warga Divaksinasi

Mengutip data dari Our World in Data, per 13 September 2021, cakupan vaksinasi lengkap di Indonesia baru mencapai 15 persen dari target yang ditentukan untuk bisa mencapai kekebalan komunal. Baru 11 persen saja yang telah menerima satu dosis vaksin COVID-19.

Ketimpangan pemberian vaksin terlihat di dalam negeri. Jumlah warga di Pulau Jawa dan Bali yang telah divaksinasi jauh lebih tinggi dibandingkan di pulau-pulau lainnya.

Sedangkan, bila dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara, capaian vaksinasi COVID-19 tergolong cukup baik. Malaysia dilaporkan sudah memberikan vaksinasi lengkap terhadap 53 persen warganya. Brunei sudah melakukan vaksinasi lengkap terhadap 32 persen warganya.

Sementara, baru 30 persen penduduk di dunia yang telah menerima vaksinasi lengkap.

2. AS jadi negara yang paling banyak menyumbang kasus harian COVID-19
[UPDATE] COVID-19 di Singapura Naik Meski 80 Persen Warga Divaksinasi

Sementara, bila melihat data dari World O Meter, kasus COVID-19 di Amerika Serikat belum mereda. Berdasarkan data yang diterima pada Selasa (14/9/2021), Negeri Paman Sam melaporkan kasus harian tertinggi yakni 142.059.

Di bawahnya terdapat Turki dengan 27.802 kasus baru, India 27.491 kasus baru, Inggris 26.628 kasus baru, dan Iran 22.329 kasus baru. Sedangkan, Indonesia dilaporkan berada di peringkat ke-21 dengan jumlah kasus baru 4.128.

Amerika Serikat juga menyumbang paling banyak angka kematian harian. Berdasarkan data yang dilaporkan, pada Selasa kemarin ada 1.934 warga yang meninggal akibat COVID-19 di AS. Di bawahnya terdapat Rusia dengan 781 warga yang meninggal dan Brasil dengan 709 warga meninggal.

3. Jumlah kasus aktif COVID-19 di AS mencapai 9,4 juta
[UPDATE] COVID-19 di Singapura Naik Meski 80 Persen Warga Divaksinasi

Selain menyumbang kasus harian dan angka kematian tertinggi di dunia, AS juga masih memiliki jumlah kasus aktif tertinggi. World O Meter mencatat AS memiliki 9,4 juta warga yang dirawat di rumah sakit akibat COVID-19 atau menjalani isolasi mandiri. Di bawah AS, terdapat Inggris dengan 1,3 juta kasus aktif dan Iran 598.462 kasus aktif.

Kondisi di Negeri Paman Sam diperburuk dengan jumlah warga yang belum divaksinasi yang tergolong tinggi. Presiden AS Joe Biden pada pekan lalu mengumumkan jumlah warga yang belum divaksinasi mencapai 80 juta.

Sementara, Indonesia ada di peringkat ke-21 dengan 92.328 kasus aktif. Indonesia berhasil menurunkan jumlah kasus aktif yang sebelumnya selalu di atas 100 ribu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi peringatan terbaru soal Covid-19. Belum usai varian Delta, kini muncul varian terbaru lagi varian Mu, atau dikenal ilmuwan dengan B.1621. Varian ini kini masuk ke dalam ‘variant of interest’ WHO. Pengklasifikasian yang merujuk ke pemantauan ketat itu sudah dilakukan sejak 30 Agustus.

Varian ini, menurut lembaga PBB itu, mengandung mutasi genetik yang menunjukkan kekebalan alami. Bukan hanya itu, WHO menyebut vaksin saat ini dan perawatan antibodi monoklonal mungkin saja, tidak bekerja dengan baik, seperti halnya dengan ‘leluhur’ virus corona lain. Namun, WHO mengatakan membutuhkan studi lebih lanjut untuk memastikan itu. Apakah varian itu lebih menular, lebih mematikan atau resisten terhadap vaksin dan perawatan saat ini.