COVID-19 Varian India Telah Ditelusuri Pokja Genetik UGM

COVID-19 Varian India Telah Ditelusuri Pokja Genetik UGM

COVID-19 Varian India Telah Ditelusuri Pokja Genetik UGM – FKKMK merupakan Fakultas Kedokteran tertua di Indonesia yang berdiri pada 5 Maret 1946. Didirikan melalui proses panjang dan tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) langsung menindaklanjuti dugaan munculnya virus corona varian baru di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM dr Gunadi mengatakan, pihaknya berencana melakukan pemeriksaan whole genom sequencing (WGS) untuk DIY pada pekan depan.

“Pemeriksaan WGS mungkin baru bisa pekan depan untuk DIY,” Dikutip dari Daftar Slot Live22 kata Gunadi di Yogyakarta, dikutip dari ANTARA, Kamis (27/5/2021).

1. Enam kriteria untuk melakukan WGS

WGS 84 adalah salah satu komunitas akademik di Prodi Sains Informasi Geografi (SaIG) yang dibentuk dan diresmikan pada tanggal 9 Februari 2019.

Gunadi menjelaskan Pokja Genetik UGM telah menerima laporan terkait temuan kasus COVID-19 yang memenuhi kriteria sebagai prioritas dilakukan WGS.

“Sudah ada kriteria WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) yang diadopsi Kemenkes yang menjadi prioritas untuk di-surveilans genomik guna menangkap kemungkinan DIY ada varian baru,” kata dia.

Ada enam kriteria WHO untuk surveilans genomik yaitu kasus penularan COVID-19 terjadi secara cepat, orang yang sudah divaksinasi tetap terinfeksi, adanya kasus reinfeksi, penularan pada kelompok tidak rentan seperti anak-anak, adanya orang yang baru mendarat dari luar negeri, serta kasus kematian COVID-19 dengan komorbid penyakit menular lain seperti HIV.

2. Mutasi COVID-19 di DIY belum terdeteksi

Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada dan tim telah berhasil mengidentifikasi Whole Genome Sequencing (WGS) empat isolat dari Yogyakarta dan Jawa Tengah. Hasilnya, saat dipublikasikan di GISAID ternyata tiga di antaranya mengandung mutasi D614G.

Gunadi menegaskan, sampai saat ini virus SARS-CoV-2 varian baru di DIY belum terdeteksi. Sebab, pemeriksaan genomik belum dilakukan.

“Pejabat di Sleman mengatakan mungkin sudah ada (varian baru) tapi beliau mengatakan belum tahu, karena belum dilakukan genome sequencing. Artinya beliau masih berhipotesis karena kan langsung banyak kematian,” kata dia.

Gunadi menjelaskan, Indonesia mengirimkan 1.171 sampel virus corona hasil WGS yang kepada platform data virus influenza internasional (GISAID) hingga 25 Mei 2021. Dari jumlah tersebut, sebanyak 45 sampel mengandung varian baru yang terdiri atas 16 varian Inggris, 27 varian India, dan 2 varian Afrika Selatan.

Namun, sampel tersebut tidak ada yang berasal dari DIY. “Belum terdeteksi bukan berarti tidak ada karena belum dilakukan WGS,” kata dia.

3. Pokja Genetik UGM masih periksa genom sampel nakes dari RSUD Cilacap

Pokja Genetik UGM, kata Gunadi, saat ini masih fokus membantu Balitbangkes Kemenkes melakukan pemeriksaan genom 12 sampel tenaga kesehatan dari RSUD Cilacap, Jawa Tengah.

Para nakes tersebut tertular COVID-19 dari anak buah kapal (ABK) Filipina. Hasilnya, diperkirakan baru diperoleh sepekan lagi.

“Kami bantu Balitbangkes karena kalau semua ke Jakarta, kejauhan, oleh Kemenkes dibagi supaya lebih cepat hasilnya,” kata dia.