Gencatan Senjata Antara Armenia & Azerbaijan Kembali Terjadi

Gencatan Senjata Antara Armenia & Azerbaijan Kembali Terjadi

Gencatan Senjata Antara Armenia & Azerbaijan Kembali Terjadi – Sejak kemerdekaannya, Armenia mencoba menjaga hubungan baik dengan Iran, Rusia dan negara-negara barat, seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Namun, karena adanya sengketa dalam kasus genosida yang menimpa orang-orang Armenia pada masa lalu dan peperangan melawan Nagorno–Karabakh membuat hubungan diplomatik negara ini dengan tetangganya semakin buruk, yaitu Azerbaijan dan Turki.

Kementerian Pertahanan Armenia mengumumkan bahwa Armenia dan Azerbaijan menyetujui gencatan senjata guna mengakhiri ketegangan yang terjadi di sepanjang perbatasan mereka pada hari sebelumnya.

1. Ditakutkan terulang kembali pertempuran antara Armenia-Azerbaijan seperti yang terjadi tahun lalu
Armenia Umumkan Gencatan Senjata dengan Azerbaijan

Menurut pihak Yerevan, bentrokan yang terjadi mengakibatkan salah satu prajuritnya tewas dan 12 prajurit telah ditangkap oleh militer Azerbaijan.

“Kematian dan cedera di antara pasukan Armenia akibat pertempuran tersebut mengakibatkan Yerevan kehilangan kendali atas dua posisi militer,” ungkap Kementerian Pertahanan Armenia.

Yang ditakutkan dari pertempuran antara dua musuh bebuyutan ini, Armenia dan Azerbaijan, akan memicu meletusnya perang seperti setahun yang lalu saat memperebutkan wilayah pegunungan Nagarno-Karabakh yang disengketakan.

Seperti yang diketahui, konflik bersenjata yang terjadi selama enam minggu pada tahun lalu untuk menguasai wilayah Nagarno-Karabkh, menyebabkan lebih dari 6.500 orang tewas.

Pasukan Azerbaijan yang didukung oleh Turki, berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah yang secara internasional dianggap sebagai bagian dari Azerbaijan, dan Armenia menyerahkan petak-petak wilayah yang telah dikuasainya selama beberapa dekade.

Kesepakatan melalui perjanjian gencatan senjata pun dicapai pada November 2020 dan dimediasi oleh Rusia yang memiliki pangkalan militer di Armenia, di mana sekitar 2.000 pasukan penjaga perdamaian Rusia dikerahkan untuk berpatroli di daerah sekitar Nagarno-Karabakh.

Sejak saat itu, kedua negara telah melaporkan sesekali baku tembak di sepanjang sengketa perbatasan teritorial mereka.

2. Kedua belah pihak saling menyalahkan
Armenia Umumkan Gencatan Senjata dengan Azerbaijan

Pada hari Selasa, kedua belah pihak sebelumnya saling menyalahkan satu sama lain yang berdalih bahwa pihak lain yang memulai pertempuran tersebut di sepanjang perbatasan bersama mereka.

“Militer Armenia melakukan provokasi besar-besaran terhadap Azerbaijan di perbatasan negara, wilayah Kalbajar dan Lachin,” ungkap Kementerian Pertahanan Azerbaijan, seperti yang dilaporkan oleh BBC.

“Armenia meluncurkan operasi militer mendadak guna mengambil posisi yang lebih menguntungkan, namun serangan tersebut dapat digagalkan,” pihak Azerbaijan menambahkan.

Pernyataan tersebut pun dibantah oleh pihak Yerevan. Armenia berdalih bahwa Azerbaijan berusaha menerobos perbatasan timur Armenia, di mana pasukan Baku menyusup ke dua wilayah Armenia, yakni Syunik di tenggara dan Gegharkunik di timur.

3. Armenia-Azerbaijan didesak untuk lakukan gencatan senjata penuh

Bentrokan perbatasan yang terjadi antara Yerevan dan Baku membuat petinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa, dan Rusia mendesak kedua belah pihak untuk menghentikan pertempuran.

Charles Michel selaku Presiden Dewan Eropa pada hari Selasa, menyerukan pemimpin Armenia, Perdana Menteri Nikol Pashinyan dan pemimpin Azerbaijan, Presiden Ilham Aliyev, untuk de-eskalasi dan gencatan senjata penuh.

Prancis pun sepakat pada seruan Michel, “Prancis meminta semua pihak untuk menghormati gencatan senjata yang mereka lakukan setelah deklarasi trilateral 9 November 2020,” ungkap Kementerian Luar Negeri Prancis, dikutip dari DW.

Armenia turut aktif menjadi anggota di lebih dari 40 organisasi internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Majelis Eropa, Persemakmuran Negara-Negara Merdeka, Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa.

Kemitraan NATO untuk Perdamaian, Dewan Kemitraan Atlantik dan Eropa, the Dana Moneter Internasional, Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan, Organisasi Perdagangan Dunia dan Francophonie.

Armenia juga bertindak sebagai pengamat pada Masyarakat Ekonomi Eurasia dan Gerakan Non-Blok. Saat ini, Menteri Luar Negeri dijabat oleh Eduard Nalbandyan.