Kisah Polisi & Etnis Minoritas Asal Afghanistan di Pakistan

Kisah Polisi & Etnis Minoritas Asal Afghanistan di Pakistan

Kisah Polisi & Etnis Minoritas Asal Afghanistan di Pakistan – Imigran asal Afganistan menggelar aksi unjuk rasa di  depan gedung UNHCR, Menara Revindo, Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Mereka menuntut untuk segera dievakuasi ke negara ketiga yang menampung imigran. Seorang pengunjuk rasa, Muhammad Ali (31) mengatakan, telah berada di Indonesia sejak 2014.

Pakistan sedang mempersiapkan diri menampung kurang lebih 700 ribu pengungsi Afghanistan pasca Taliban mengambil alih kekuasaan. Tumpahnya arus pengungsi Afghanistan menjadi permasalahan serius bagi Pakistan, karena negara ini sudah menampung sangat banyak pengungsi dari seluruh penjuru dunia.

Dikutip dari The New York Times, baik pegawai sipil dan kelompok minoritas yang sebelumnya menetap di Afghanistan, lebih memilih hengkang karena ancaman keamanan serius dari Taliban. Meskipun begitu, tidak mudah bagi mereka untuk meninggalkan negeri, terutama ketika Taliban sudah menguasai negara tersebut.

1. Memutuskan untuk pergi setelah kepala polisi dieksekusi Taliban
Lari dari Taliban, Kisah Warga Afghanistan yang Berlindung di Pakistan

Sebagai seorang polisi Afghanistan, sudah menjadi tugas Mohammad untuk mengejar dan menangkap pejuang Taliban. Tetapi, semua berubah ketika Taliban membalikkan keadaan.

Kepala Polisi Provinsi Laghman menjadi salah satu korban eksekusi Taliban, pasca sepak terjang mereka ke seluruh penjuru Afghanistan, seperti diberitakan The Straits Times. Kematian komandannya membuat Mohammad memilih untuk meninggalkan Afghanistan bersama keluarga sebelum Taliban menemukannya.

“Kami meninggalkan Afghanistan secara khusus untuk melindungi hidup kami,” ujar Mohammad.

Proses pelarian itu pun tidak semudah yang dipikirkan, karena Mohammad bertemu dengan pejuang Taliban yang berusaha melarikan diri.

“Di jalan raya, pejuang Taliban sempat memberhentikan dan menggeledah setiap pelancong,” ucap mantan polisi dari Provinsi Laghman tersebut.

“Namun, beruntungnya, mereka tidak mengenal saya, mungkin karena saya merupakan polisi dengan pangkat yang rendah,”  tambahnya.

Sesampainya di pos perbatasan Afghanistan-Pakistan di Spin Boldak, Mohammad menjelaskan ia harus menyuap Prajurit Pakistan sebesar 900 dollar AS (sekitar Rp12,7 juta) agar diizinkan masuk.

2. Kelompok minoritas masih menjadi target kekerasan di Afghanistan
Lari dari Taliban, Kisah Warga Afghanistan yang Berlindung di Pakistan

Perseteruan antar etnis di Afghanistan merupakan masalah serius yang harus dihadapi negara tersebut. Hal itulah yang membuat Sher Ali berlindung di Pakistan, karena takut ia dan keluarganya dieksekusi Taliban karena keturunan Hazara, bukan etnis Pashtun yang mendominasi Taliban,

Ali bersama ibu dan adik perempuannya lari ke Pakistan untuk berlindung dari ancaman pembantaian etnis yang menurutnya masih marak terjadi.

“Kami tidak akan kembali ke Afganistan sekarang, karena kami adalah target baik oleh Taliban dan ISIS-K, di mana keduanya mencap kami sebagai orang kafir,” ujar Sher Ali.

Sama seperti Mohammad dalam cerita sebelumnya, Ali beserta keluarga berhasil masuk ke Pakistan melalui Spin Boldak. Tetapi, Ali tidak perlu menyuap karena ia dan keluarganya dapat masuk ke Pakistan atas dasar masalah kemanusiaan.

3. Tidak semua orang senang dengan kedatangan pengungsi asal Afghanistan
Lari dari Taliban, Kisah Warga Afghanistan yang Berlindung di Pakistan

Sebagai salah satu negara yang telah menerima pengungsi dalam jumlah besar, Pakistan merasa terbebani dengan datangnya pengungsi asal Afghanistan. Islamabad disebut harus menyiapkan anggaran sebesar 2.2 miliar dollar AS (sekitar Rp31 triliun) untuk menampung gelombang pengungsi yang akan memadati negara tersebut.

Sentimen negatif anti pengungsi juga semakin berkembang, sebagaimana beberapa pihak hingga media menggambarkan pengungsi sebagai kriminal dan pengedar narkoba.

Beberapa kelompok masyarakat, salah satunya etnis Sindhi dari Provinsi Sindh, melaksanakan protes anti-pengungsi karena sudah terlalu banyak pengungsi yang datang dan berlindung di wilayah mereka.

Seorang politikus beretnis Sindhi, Ayaz Latif Palijo, bahkan menyatakan, “Sindh bukan tempat panti asuhan internasional.”

Belum diketahui pasti bagaimana rencana Pakistan menghadapi arus pengungsi yang jauh lebih besar dari Afghanistan. Namun, diketahui bahwa pakistan sedang bernegosiasi dengan Taliban agar jumlah pengungsi Afghanistan terkendali.

Ratusan imigran Afghanistan menggelar aksi di depan kantor Komisariat Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) yang berlokasi di Jalan Raya Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Adapun dalam aksi yang berakhir pada sekira pukul 16.30 WIB tersebut, para imigran menuntut kejelasan nasib mereka kepada pihak UNHCR di Indonesia untuk dapat dipindahkan ke permukiman permanen di negara ketiga sebagai pengungsi.