Lithuania Berencana Membangun Tembok di Sepanjang Perbatasan

Lithuania Berencana Membangun Tembok di Sepanjang Perbatasan

Lithuania Berencana Membangun Tembok di Sepanjang Perbatasan – Republik Belarus atau Belarusia adalah sebuah negara di Eropa Timur dengan ibu kota Minsk. Negara ini secara administratif terbagi menjadi 6 provinsi (voblast) dan sebuah kota khusus. Berbatasan dengan Rusia di timur dan timur laut, Ukraina di selatan, Polandia di barat, dan Lituania dan Latvia di barat laut.

Belarusia mencakup area seluas 207.600 kilometer persegi (80.200 mil persegi), dengan populasi 9,4 juta, dan merupakan negara terbesar ketiga belas dan kedua puluh terpadat di Eropa. Negara ini secara administratif dibagi menjadi tujuh wilayah, dan merupakan salah satu yang paling urban di dunia, dengan lebih dari 40% dari total luas daratannya adalah hutan. Pemerintah Lithuania berencana membangun tembok di sepanjang perbatasan Belarusia.

Keputusan membangun tembok perbatasan ini akibat terus datangnya migran asal Timur Tengah yang download apk open card idn melintasi Belarusia untuk masuk ke teritori Lithuania.  Beberapa minggu belakangan ini, gelombang migran asal Timur Tengah sudah berdatangan ke perbatasan Lithuania-Belarusia. Setelah Pemerintah Belarusia memperbolehkan para migran untuk melewati negaranya menuju ke Uni Eropa.

1. Lithuania akan bangun tembok untuk halau migran ilegal
Lithuania Akan Bangun Tembok di Perbatasan Belarusia

Perdana Menteri Lithuania Ingrida Shimonyte pada Rabu (07/07/2021) telah mengumumkan jika pemerintahannya akan membangun tembok di sepanjang perbatasan Belarusia. Keputusan pembangunan tembok pembatas Lithuania-Belarusia ini dimaksudkan agar mencegah gelombang migran yang datang ke negarannya.

Shimonyte juga mengatakan bahwa nantinya akan menerjunkan tentara untuk melakukan penjagaan perbatasan kedua negara sepanjang 678 km. Diketahui sejak awal Juni lalu, sebanyak ratusan migran ilegal sudah melintasi perbatasan dan berhasil ditangkap aparat penjaga perbatasan, dilansir dari DW.

2. Lithuania tuding Belarusia gunakan agen perjalanan untuk menjemput migran

Dikutip dari laman RT,  PM Ingrida Shimonyte selama ini menuding Minsk menggunakan agen perjalanan untuk menawarkan pada migran yang nantinya dikirim ke Uni Eropa. Bahkan berdasarkan dokumen menunjukkan migran Timur Tengah tersebut langsung dari Baghdad, setelah ditemukan tiket pesawat dari salah seorang migran yang melintas perbatasan.

Bahkan akibat banyaknya jumlah migran yang masuk ke perbatasan kedua negara, maka otoritas setempat memberlakukan situasi darurat pada 2 Juli lalu. Diketahui sejak enam bulan awal tahun 2021, terdapat 822 migran ilegal yang mencoba masuk ke negaranya, di mana jumlah itu 10 kali lipat dari tahun 2020 lalu.

3. Adanya kemungkinan migran Timur Tengah diterbangkan dari Turki
Lithuania Akan Bangun Tembok di Perbatasan Belarusia

Dilaporkan dari BBC, Menlu Lithuania Gabrielius Landsbergis mengatakan jika sejumlah besar migran ilegal yang mencoba masuk ke Lithuania dari Belarusia diterbangkan dari Turki. Maka Landsbergis sudah meminta rekan di Turki untuk mengidentifikasi setiap kedatangan migran di negaranya.

Pihak Uni Eropa juga sudah mengirimkan personil frontex ke perbatasan Lithuania untuk menangani krisis migran. Apalagi sebelumnya Presiden Belarusia, Aleksander Lukashenko berulang kali memperingatkan jika otoritas Belarusia tidak akan lagi menghentikan arus migran yang hendak masuk ke negara anggota Uni Eropa.

Hubungan Belarusia dan Lithuania tengah memanas dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah negara Baltik tersebut menampung seorang oposisi Belarus bernama Svetlana Tikhanovskaya. Selama ini Lithuania menjadi negara tujuan pengungsi politik dari Belarusia yang lari dari jeratan hukum di negaranya. Belarusia adalah negara berkembang dengan peringkat yang sangat tinggi dalam Indeks Pembangunan Manusia.

Belarus telah menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak didirikan; dan anggota CIS, CSTO, EAEU, dan Gerakan Non-Blok, ia tidak menunjukkan aspirasi untuk bergabung dengan Uni Eropa tetapi tetap mempertahankan hubungan bilateral dengan UE, dan juga berpartisipasi dalam dua proyek UE: Kemitraan Timur dan Baku Initiative.