Menlu Retno Menekankan Kesetaraan Akses ke Vaksin COVID-19

Menlu Retno Menekankan Kesetaraan Akses ke Vaksin COVID-19

Menlu Retno Menekankan Kesetaraan Akses ke Vaksin COVID-19 – Retno Lestari Priansari Marsudi, S.I.P., LL.M. (lahir 27 November 1962) adalah Menteri Luar Negeri perempuan pertama Indonesia yang menjabat dari 27 Oktober 2014 hingga 22 Oktober 2019 dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menekankan pentingnya kesetaraan akses ke vaksin COVID-19 pada pembukaan acara High Level Week Sidang Majelis Umum (SMU) PBB ke-76 di New York, Amerika Serikat (AS), Selasa (21/9/2021).

Retno Lestari Priansari Marsudi kembali dipercaya dan dilantik oleh Presiden Joko WIdodo sebagai Menteri Luar Negeri pada 23 Oktober 2019 untuk Kabinet Indonesia Maju periode 2019 hingga 2024. Retno juga mengatakan pada awal pidatonya di acara tersebut, Sekjen PBB juga mengangkat isu ketimpangan akses terhadap vaksin yang masih sangat lebar.

“Hal ini tentunya akan berdampak pada sulitnya dunia dapat pulih keluar dari pandemi,” kata Retno dalam press briefing virtual dari New York.

1. Kolaborasi penting untuk penuhi harapan masyarakat internasional
Menlu Retno Bahas Pentingnya Kesetaraan Akses Vaksin COVID-19

Retno mengatakan bahwa secara khusus Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB menggarisbawahi pentingnya dunia berkolaborasi untuk memenuhi harapan masyarakat internasional.

Ia juga menyebut mekanisme multilateral harus dapat menjembatani adanya enam kesenjangan yang terjadi di dunia saat ini, yaitu Kesenjangan Perdamaian, Kesenjangan iklim, Kesenjangan Kaya dan Miskin, Kesenjangan Gender, Kesenjangan Digital, dan Kesenjangan Generasi.

“Sementara itu, Presiden SMU PBB menyampaikan beberapa prioritas yang akan diusung selama kepemimpinannya, yaitu pandemi COVID-19 terutama isu mengenai gap vaksin, climate change, gender, youth, dan reformasi PBB,” ujarnya, merujuk pada Menteri Luar Negeri Maladewa Abdulla Shahid yang menjadi Presiden SMU PBB Ke-76.

2. Jokowi akan berpidato di SMU PBB Ke-76
Menlu Retno Bahas Pentingnya Kesetaraan Akses Vaksin COVID-19

Dalam pemaparannya, Retno mengatakan bahwa High Level Week SMU PBB ke-76 tahun ini dilakukan secara hybrid. Sebelumnya pada tahun lalu acara ini dilakukan virtual penuh karena pandemik. Retno mengatakan bahwa tema SMU PBB tahun ini adalah “Building resilience through hope – to recover from COVID19, rebuild sustainably, respond to the needs of the planet, respect the rights of the people, and revitalize the United Nations”.

“Tema ini tentunya menggambarkan tantangan yang masih dihadapi dunia saat ini, dari COVID-19 hingga perubahan iklim, dari kemiskinan yang semakin dalam akibat pandemi hingga masih terjadinya konflik di berbagai belahan dunia,” ujarnya.

Menurut Retno, sebanyak 195 negara dijadwalkan berpartisipasi dalam High Level Week SMU PBB Ke-76, di mana 107 di antaranya berpartisipasi pada tingkat Kepala negara, baik yang hadir maupun yang menyampaikan statement secara virtual.

Retno juga mengatakan bahwa Presiden RI Joko “Jokowi” Widodo akan menyampaikan pidato di SMU 76 PBB pada Rabu sore waktu New York atau Kamis pagi waktu Jakarta.

“Secara virtual dan saya yang akan menghantarkan pidato Presiden. Dari ASEAN, hampir semua pemimpin menyampaikan statement secara virtual, kecuali Presiden Vietnam,” katanya.

3. Retno hadiri 28 pertemuan
Menlu Retno Bahas Pentingnya Kesetaraan Akses Vaksin COVID-19

Retno lebih lanjut mengatakan bahwa selama berlangsungnya SMU PBB, sejauh ini sudah terjadwal sekitar 28 pertemuan yang akan ia jalani. Ia menyebut banyak dari pertemuan yang akan ia hadiri masih belum memiliki jadwal karena sejumlah kendala, seperti sulitnya mencocokkan waktu yang pas untuk melakukan pertemuan.

“Karena masing-masing Menlu sibuk dengan jawal masing-masing,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dari 28 atau selama berlangsungnya SMU PBB dalam semua pertemuan, secara garis besar beberapa isu yang sudah dan akan dibawa oleh Indonesia antara lain yakni kerja sama mengatasi pandemi, termasuk bagaimana Indonesia bekerja sama mempersempit gap vaksin antara negara maju dan berkembang.

“Selain isu ini memang sudah menjadi prinsip Indonesia untuk terus diperjuangkan dari sejak awal pandemi, saya juga terus mendorong dan menyampaikan isu ini karena memiliki tanggung jawab tambahan, yaitu sebagai salah satu Co-Chairs COVAX Advance Market Commitment (AMC) Engagement Group,” katanya.