PB IDI Menyarankan Agar Indonesia Lockdown Selama 2 Minggu

PB IDI Menyarankan Agar Indonesia Lockdown Selama 2 Minggu

PB IDI Menyarankan Agar Indonesia Lockdown Selama 2 Minggu – IDI (Ikatan Dokter Indonesia) didirikan sekitar 62 tahun yang lalu , tepatnya pada tanggal 24 Oktober 1950. IDI adalah satu-satunya organisasi Profesi bagi dokter di seluruh wilayah Indonesia seperti yang termaktub dalam Undang-Undang Praktek Kedokteran No.29 tahun 2004. Ketua Satgas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban, menyarankan pemerintah berani menerapkan lockdown selama dua minggu di tengah meroketnya penularan kasus COVID-19 saat ini.

“Saran saya. Lebih bijaksana bagi Indonesia untuk terapkan lockdown selama dua minggu. Untuk apa? Memperlambat penyebaran, meratakan kurva, menyelamatkan fasilitas kesehatan, dan yang pamungka:

menahan situasi pandemi jadi ekstrem yang akan membahayakan lebih banyak nyawa,” cuitnya di akun Twitter@profesorzubairi yang sudah konfirmasi Apk IDN Poker, Senin (21/6/2021).

1. Situasi pandemik COVID-19 sedang serius
Situasi Serius! IDI Sarankan Indonesia Lockdown 2 Minggu  

Menurut Zubairi, kebijakan lockdown dilakukan karena situasi pandemik COVID-19 sedang serius. Saat ini, keterisian rumah sakit terus meningkat seiring melonjaknya kasus. Di beberapa daerah, rumah sakit tak lagi mampu menampung pasien COVID-19.

“Kita butuh banget pembatasan pergerakan masyarakat. Saat ini kan rumah sakit penuh, kasus melonjak, beberapa tenaga kesehatan dan medis telah terinfeksi yang bisa menyebabkan kualitas layanan menurun,” imbuhnya.

2. Kebijakan lockdown terbukti efektif
Situasi Serius! IDI Sarankan Indonesia Lockdown 2 Minggu  Pekerja migran menunggu uji rapid antigen di lokasi pembangunan komplek gedung tempat tinggal ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19) di New Delhi, India, Sabtu (19/9/2020)

Zubairi menilai kebijakan lockdown memang tidak populer di Indonesia, namun kebijakan tersebut terbukti efektif di beberapa negara. Contohnya, India yang kasus turun dari 400 ribu kasus per hari menjadi menjadi 70 ribu.

“Saya rasa, pandemi akan sulit terkendali jika jarak sosial ekstrem tidak diperaktikkan,” katanya.

Dia menilai PPKM Mikro belum cukup. Hal ini bisa dilihat dari kondisi sekarang. Menurut Zubairi, kebijakan lockdown akan mengesankan bahwa situasi saat ini benar-benar darurat sehingga masyarakat juga sadar.

“Tidak usah lama-lama dan memang butuh kesabaran serta kesadaran dari semua pihak,” katanya.

Kebijakan lockdown diterapkan paling cepat dua minggu, namun, dilihat juga positivity ratenya. “Misalnya di Jakarta yang berada di angka 17 sampai 18 persen. Ya tunggu sampai 10 persen. Itu cukup. Setelah itu baru kembali lagi ke PPKM Mikro,” sarannya.

3. Lockdown efektif bila dilakukan benar
Pakar UI Ingatkan Lockdown Tak Efektif Bila Tidak Dibarengi 2 Hal - Metro  Tempo.co

Zubairi menambahkan kebijakan lockdown bisa jadi sebuah jaminan pengendalian kasus COVID-19 asal dilakukan dengan benar dan efektif.

“Namun saya juga tidak bisa memaksakan. Itu terserah yang punya kewenangan. Sebagai dokter, tentu saja saya ingin memprioritaskan keselamatan dan kesehatan,” ungkapnya.

4. Pemerintah perketat PPKM Mikro
Kendalikan Covid-19, Pemerintah Perketat PPKM Mikro 2 Pekan - Arus Baik

Pemerintah telah memperketat penerapan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Sejumlah aturan pun telah dikeluarkan pemerintah guna menekan laju penyebaran COVID-19.

“Terkait dengan penebalan atau penguatan PPKM mikro arahan Bapak Presiden tadi untuk melakukan penyesuian. Jadi nanti akan berlaku mulai besok tanggal 22 Juni sampai 5 Juli, dua minggu ke depan,” kata Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan persnya usai rapat terbatas, Senin (21/6/2021).

Sementara, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan telah melaporkan perkembangan kasus COVID-19 di Indonesia pada Presiden Joko “Jokowi” Widodo. Menurut Budi, ia telah melaporkan bahwa kasus virus corona di Indonesia memang semakin melonjak.

“Kami sampaikan saat ini memang terjadi peningkatan yang luar biasa, dan itu penting untuk bisa fokusnya bukan hanya ke sisi hilir, di sisi rumah sakit, di sisi penanganan orang sakit, tapi lebih penting lagi fokus ke sisi hulu, bagaimana kita mencegah agar orang sehat ini jangan menjadi sakit,” kata Budi dalam keterangan persnya yang disiarkan langsung di channel YouTube Sekretariat Presiden, Senin (21/6/2021).

Selain itu, Budi juga melaporkan terkait kesiapan pemerintah pada lonjakan kasus COVID-19 usai Lebaran. Berkaca dari melonjaknya kasus di awal tahun, Budi menyampaikan pemerintah telah menyiapkan tambahan tempat tidur hingga obat-obatan.

“Kami sampaikan berdasarkan pengalaman di peningkatan kasus Januari, Februari di awal tahun ini. Kami sudah mempersiapkan lebih dini jumlah tempat tidur yang ada, obat-obatan yang diperlukan, peralatan seperti APD dan juga masker yang dibutuhkan. Termasuk juga tenaga kesehatannya,” jelas Budi.