PM Pakistan Lebih Mendukung China Soal Kebijakan di Xinjiang

PM Pakistan Lebih Mendukung China Soal Kebijakan di Xinjiang

PM Pakistan Lebih Mendukung China Soal Kebijakan di Xinjiang – Imran Khan Niazi (lahir 25 November 1952; umur 68 tahun) adalah politikus dan pemain kriket Pakistan yang terkemuka. Ia menjadi kapten tim kriket Pakistan dari 1971 hingga 1992 dan menjuarai Piala Dunia Kriket 1992. Perdana Menteri Pakistan yang bernama Imran Khan memiliki sikap berbeda dalam memandang China soal kebijakan di Xinjiang yang menindas muslim Uighur.

Pada bulan April 1996, ia menjadi pendiri dan ketua partai politik Pakistan Tehreek-e-Insaf (Pergerakan Keadilan), kemudian menjadi anggota Majelis Pakistan dari Mianwali pada bulan Oktober 2002. Pandangannya bertolak belakang dari banyak negara yang menilai bahwa China telah melakukan genosida budaya di Xinjiang.

Pada hari Kamis (1/7), berbicara kepada media China yang datang ke Islamabad, Imran Khan mengatakan dukungan negaranya kepada pemerintah China mengenai kebijakannya di provinsi Xinjiang yang mayoritas muslim. Menurut Khan, Dilansir dari poker idn deposit pulsa 10rb tanpa potongan informasi yang diberikan Barat atas situasi di Xinjiang berbeda dengan informasi yang disampaikan oleh Beijing.

1. Imran Khan lebih menerima informasi yang disampaikan China dari pada Barat

Ketika banyak negara di dunia, terlebih Barat, menuduh China melakukan genosida budaya terhadap muslim Uighur di Xinjiang, Pakistan memiliki pandangan yang berbeda. Ketika banyak negara mengecam tindakan China terhadap Uighur, Pakistan menolak mengecamnya.

Pandangan Imran Khan ini menjadi salah satu anomali tersendiri. Ini karena sebagian besar negara dengan mayoritas muslim mengutuk China atas kebijakan di Xinjiang tapi dirinya justru mendukung China.

2. China telah menolong Pakistan di masa-masa sulit

Pakistan memiliki hubungan yang strategis dengan China. China telah menopang ekonomi Pakistan yang morat-marit, memberikan banyak pinjaman dan menginvestasikan miliaran dolar AS di Pakistan.

Dalam wawancara profil tinggi dengan Jonathan Swan, Imran Khan menurut Vox, menjelaskan bahwa “China telah menjadi salah satu teman terbaik bagi kami di masa-masa tersulit, ketika kami benar-benar berjuang. Ketika ekonomi kami sedang berjuang, China datang untuk menyelamatkan kami.”

Jurnalis Vox yang bernama Alex Ward menilai bahwa Khan sepertinya tidak ingin menjelek-jelekkan China di depan umum. Sameer Lalwani, direktur program Asia Selatan di Stimson Center di Washington, DC, mengatakan bahwa “China adalah satu-satunya penyelamat Pakistan yang keluar dari utang.”

3. Pakistan sepenuhnya mengikuti garis China dalam sikap terhadap muslim Uighur
PM Pakistan Dukung China Soal Kebijakan di Xinjiang

Pakistan sebagai negara muslim dan dekat dengan perbatasan China, banyak dari anggota komunitas muslim Uighur yang berlindung di negara tersebut pada tahun 1960-an silam. Itu karena pedoman bahwa sesama muslim adalah saudara.

Peter Irwin penulis Islam Dispossed, termasuk yang mengungkap kekejaman China atas muslim Uighur di Xinjiang, menyoroti fakta bahwa Pakistan mengekor garis narasi yang diberikan China atas peristiwa di Xinjiang. Dengan menyangkal tuduhan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Beijing di Xinjiang, Pakistan dinilai termasuk pendukung China yang meremehkan kejahatan terhadap muslim Uighur.

China telah dinilai oleh Barat melakukan genosida terhadap muslim Uighur di Xinjiang. Beberapa fakta dari laporan penyelidikan media mengungkap bahwa ribuan masjid telah dihancurkan di Xinjiang. Ada juga larangan pakaian Islami termasuk cadar dan “jenggot abnormal.” Ada pula penargetan khusus imam Islam, larangan puasa selama Ramadhan untuk pegawai pemerintah dan siapa pun yang berusia di bawah 18 tahun.