PNS Akan Dipecat Jika Belum Divaksin Tahap 2 PADA 1 November

PNS Akan Dipecat Jika Belum Divaksin Tahap 2 PADA 1 November

PNS Akan Dipecat Jika Belum Divaksin Tahap 2 PADA 1 November – Komodor Josaia Voreqe Bainimarama OStJ, atau lebih dikenal dengan Frank Bainimarama, adalah Panglima Angkatan Bersenjata Fiji, yang mengorganisasikan pemberantasan kudeta di Fiji pada tahun 2000 yang dipimpin oleh George Speight. Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama, melarang warganya untuk bekerja jika belum disuntik vaksin COVID-19.

Ia menjabat sebagai Kepala Pemerintahan Interim Militer dari 29 Mei sampai 13 Juli 2000 dan menyerahkan kekuasaannya pada presiden terpilih, Josefa Iloilo. Kebijakan itu diberlakukan demi memerangi varian delta yang memiliki daya penularan tinggi. “Tidak ada suntikan, maka tidak ada pekerjaan,” kata Bainimarama sebagaimana dikutip dari AFP.

Secara lebih rinci, aturan yang berlaku di negara berpenduduk 930 ribu orang itu adalah setiap pegawai negeri sipil (PNS) harus mengajukan cuti jika mereka belum menerima suntikan vaksin dosis pertama pada 15 Agustus 2021. Kemudian, Dirangkum dari poker idn deposit pulsa 10rb tanpa potongan mereka akan diberhentikan jika tak kunjung menerima suntikan kedua pada 1 November 2021.

1. Masyarakat mulai abai dengan protokol kesehatan
Enam Bulan Covid-19 di Indonesia, Masyarakat Semakin Abai Protokol Kesehatan

Selain itu, karyawan sektor swasta harus menerima vaksinasi COVID-19 pertamanya pada 1 Agustus 2021. Individu yang menolak divaksinasi akan didenda, dan perusahaan yang tidak memfasilitasi vaksinasi akan ditutup.

“Yang paling aman sekarang adalah kebijakan pemerintah ditegakkan melalui hukum” ujar Bainimarama yang menjabat sebagai Perdana Menteri Fiji sejak 2007.

Kebijakan tegas itu muncul ketika masyarakat mulai abai dengan protokol kesehatan. Seperti enggan menjaga jarak dan banyak yang tidak mengenakan masker, sehingga menyebabkan lonjakan penularan.

2. Varian delta menyebabkan lonjakan infeksi di Fiji
Cetak Rekor Kasus Covid Tiap Hari, Kamar Mayat RS Fiji Penuh

Sejak COVID-19 ditetapkan sebagai pandemik hingga April 2021, Fiji belum mencatatkan kasus infeksi. Situasi itu berubah ketika varian delta mulai memasuki negara di kawasan pasifik itu, puncaknya terjadi pada 9 Juli 2021 ketika 860 orang dinyatakan positif virus corona dalam sehari, dikutip dari Worldometer.

Sejauh ini, Fiji telah mencatat 9.521 kasus positif dan 51 kematian. Varian delta mendorong fasilitas kesehatan untuk bekerja hingga titik maksimal.

Bainimarama menolak seruan untuk mengunci seluruh negara, dengan alasan ekonomi dan langkah itu dinilai tidak efektif di permukiman padat penduduk.

“Penguncian keras, seperti yang diminta beberapa orang, tidak dapat ditegakkan secara ketat di mana-mana di Fiji dan para ahli kami memberi tahu kami bahwa itu tidak akan membunuh virus,” katanya.

“Tapi itu akan membunuh pekerjaan dan itu bisa membunuh masa depan negara kita,” tambah dia.

3. Pemerintah akan tegas dalam kampanye vaksinasi dan protokol kesehatan
Di Fiji, PNS yang Tolak Vaksinasi COVID-19 Dipecat

Sebaliknya, Bainimarama telah memberlakukan penguncian lokal di zona merah infeksi, termasuk ibu kota Suva, sembari meluncurkan vaksin AstraZeneca.

Hampir 340 ribu orang dewasa telah menerima suntikan pertama. Salah satu tantangan vaksinasi yang dihadapi Fiji adalah misinformasi dan hoaks seputar vaksin yang beredar di internet.

“Saya belum termagnetisasi atau terkelupas oleh vaksin, saya belum menerima tanda binatang atau makhluk lain, vaksin tidak memicu hal itu kepada siapa pun,” ujar dia.

Mereka yang melanggar protokol kesehatan akan didenda di tempat.

“Akhir dari cobaan ini akan datang. Sampai itu terjadi, kita harus tetap waspada sampai lebih banyak dari kita terlindungi, divaksinasi, pakai masker, jaga jarak fisik dari orang lain,” tutup Bainimarama.