Republik Ceko Membeli Empat Sistem Anti Udara Model Spyder

Republik Ceko Membeli Empat Sistem Anti Udara Model Spyder

Republik Ceko Membeli Empat Sistem Anti Udara Model Spyder – Republik Ceko telah menandatangani kesepakatan senilai 630 juta dolar AS untuk membeli sistem pertahanan udara baru dari Israel. Perjanjian tersebut akan membuat negara itu mendapatkan sistem Spyder yang dibuat oleh perusahaan milik negara Israel Rafael Advanced Defense Systems Ltd.

Kementerian Pertahanan Ceko mengatakan kesepakatan ini akan membuat negara itu mendapatkan empat baterai pertahanan udara jarak pendek bernilai 630 juta dolar. Pengiriman komponen akan selesai pada 2026.

Dikutip dari Aljazirah, sistem Spyder akan menggantikan sistem antipesawat 2K12 Kub era Soviet untuk mempertahankan pusat militer dan sipil seperti pusat industri, pembangkit listrik tenaga nuklir, bandara, dan fasilitas penting lainnya. Spyder mampu memberikan perlindungan terhadap pesawat, helikopter, pengebom, rudal jelajah, dan senjata lainnya.

1. Kesepakatan perdana sistem pertahanan udara buatan Israel ke NATO
Ceko Sepakati Pembelian 4 Sistem Anti Udara Israel

Tidak ada yang memungkiri Israel sebagai salah satu negara dengan teknologi militer paling maju di dunia. Berbagai negara telah menjadi pelanggan setia alutsista Israel yang teruji dan terbaik di pasaran.

Meskipun begitu, kesepatan empat sistem pertahanan udara Spyder dengan Ceko merupakan persetujuan penjualan alutsista pertahanan udara Israel pertama ke negara anggota Pakta Pertahanan NATO, seperti yang dilansir dari Reuters.

Hal ini membuka kesempatan luas bagi Israel, secara khusus perusahaan Rafael selaku perancang dan produsen Spyder, untuk memperluas pasar industri pertahanan mereka ke Eropa.

2. Dibeli untuk menggantikan sistem anti udara Soviet
Ceko Sepakati Pembelian 4 Sistem Anti Udara Israel

Terdapat alasan khusus mengapa militer Ceko membeli sistem pertahanan udara baru. Republik Ceko yang diketahui adalah mantan negara satelit Uni Soviet maka sampai saat ini mereka masih mewarisi berbagai jenis alutsista buatan Soviet yang sudah ketinggalan zaman.

Melansir Defense News, sejak kejatuhan Uni Soviet dan bergabungnya Ceko ke dalam NATO, sistem pertahanan udara milik Ceko masih mengandalkan buatan Soviet, yakni 2K12 Kub. Hasil rancangan teknologi 1960an di kala Perang Dingin, 2K12 Kub dianggap sudah tidak layak lagi memperkuat Ceko karena ancaman dari udara semakin modern.

Kementerian Pertahanan Ceko berharap dengan pembelian sistem pertahanan udara Spyder dari Israel maka modernisasi kekuatan militernya berada di jalan yang benar. Sejak lepas dari pengaruh Rusia, Ceko memang ingin menyingkirkan berbagai jenis persenjataan lamanya yang tidak sejalan dengan NATO dan secara bertahap Praha mulai melakukannya.

3. Ceko juga belanja alutsista buatan Prancis
Ceko Sepakati Pembelian 4 Sistem Anti Udara Israel

Tidak hanya ke Israel ternyata Ceko ikut membelajankan anggaran pertahannya ke Prancis. Dilaporkan Al Jazeera, satu minggu sebelum kesepakatan dengan Israel, Ceko sudah menyepakati pembelian 52 artileri gerak Caesar buatan Prancis. Pembelian ini ditaksir menghabiskan 390 juta dollar AS atau sekitar 5,5 triliun rupiah.

Termasuk dalam program modernisasi militer Ceko, pembelian artileri Caesar merupakan kebijakannya untuk mengganti artileri 152mm SpGH Dana buatan negara pendahulunya Cekoslovakia. Sama seperti sistem pertahanan udara, perbedaan kualifikasi dan standar yang dimiliki artileri tersebut tidak sejajar dengan NATO sehingga pemerintah Ceko harus mengejar ketertinggalannya dengan membeli alutsista baru yang memadai.

Melalui kesepakatan terpisah yang diumumkan pekan lalu, militer Ceko akan memperoleh 52 howitzer senjata self-propelled Caesar dari Nexter Systems Prancis. Perjanjian senilai 390 juta dolar AS ditandatangani selama kunjungan Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly ke Praha.

Senjata baru akan menggantikan sistem Dana usang yang tidak memenuhi standar NATO. Sebagian besar senjata akan dirakit di Republik Ceko.

Kesepakatan itu datang ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan Eropa untuk membela kepentingannya dan membangun kapasitas militernya sendiri. Desakan itu menyusul pertikaian diplomatik besar dengan Amerika Serikat, Inggris, dan Australia atas pakta keamanan trilateral AUKUS yang baru-baru ini diumumkan.