Taliban Mengharapkan Bisa Membangun Hubungan Baik Dengan AS

Taliban Mengharapkan Bisa Membangun Hubungan Baik Dengan AS

Taliban Mengharapkan Bisa Membangun Hubungan Baik Dengan AS – Taliban memperingatkan pada Senin (23 Agustus), akan ada “konsekuensi” jika Amerika Serikat dan sekutunya memperpanjang kehadiran mereka di Afghanistan setelah minggu depan.

Pengambilalihan negara itu oleh Taliban akhir pekan lalu mengejutkan negara-negara Barat, terjadi hanya dua minggu sebelum batas waktu 31 Agustus bagi semua pasukan militer asing ditarik sepenuhnya dari Afghanistan. Taliban berharap bisa membangun hubungan baik dengan Amerika Serikat (AS), dan menyatakan pemerintahan baru hampir rampung.

Pengumuman itu disampaikan selang beberapa jam pasukan terakhir AS meninggalkan Bandara Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan. Para pemimpin Taliban dan sebagian warga menyambut gembira kepergian pasukan Barat. Sebagian dari mereka menggelar arak-arakan di jalanan dan sebagian dari lainnya melepas tembakkan seremonial ke langit.

1. Taliban dalam proses merancang struktur dan model pemerintahan baru di Afghanistan
Taliban Ingin Bersahabat dengan Amerika Serikat

Menurut Dewan Kepempinan, Mujahid, Taliban telah mengadakan pertemuan selama tiga hari di bawah pimpinan spiritual tertinggi Haibatullah Akhundzada di Kandahar, kota kelahiran kelompok Islam itu.

“Sejumlah keputusan telah diambil terkait perlindungan barang, infrastruktur perbendaharaan umum, perlakuan yang baik terhadap masyarakat, dan pemberian fasilitas kepada mereka,” ulas Mujahid.

“Konsultasi diadakan tentang pembentukan pemerintahan dan kabinet Islam baru di negara ini,” sambungnya.

2. Krisis ekonomi jadi tantangan pertama Taliban
Taliban Ingin Bersahabat dengan Amerika Serikat

Terlepas dari euforia kepergian pasukan Barat, yang dimaknai Taliban sebagai kemerdekaan atau kemenangan atas imperialisme, mereka harus mencari solusi untuk keluar dari krisis ekonomi imbas kebijakan sejumlah negara dan organisasi internasional yang menutup akses bantuan atau keuangan.

Pada Selasa, 31 Agustus 2021, situasi di Kabul kembali normal. Restoran dan apotek dibuka kembali. Kerumunan dilaporkan terjadi di pasar dan kemacetan lalu lintas memadati ibu kota. Pemandangan yang unik juga tersaji, yaitu pasukan Taliban yang berpatroli dengan seragam taktis layaknya pasukan Barat.

Harga makanan pokok dan obat-obatan telah melonjak hingga 50 persen selama beberapa minggu terakhir, kata penduduk Kabul. Qasim Mohseni, seorang pedagang, meminta Taliban mengendalikan harga makanan dan obat-obatan.

“Sejak Taliban datang, keamanan terlihat baik sejauh ini, tetapi kekhawatiran dan masalah terbesar bagi orang-orang adalah ekonomi dan kurangnya pekerjaan, harga pasar juga meningkat,” ungkap Mohseni.

“Apa yang dilakukan AS atau pemerintahan Afghanistan? Itu adalah pemerintah yang korup, semua penguasa dan pemimpinnya dikorupsi oleh uang AS,” tambah dia, menyambut kepemimpinan baru Afghanistan.

3. Tiongkok berharap komunitas internasional membantu Taliban
Taliban Ingin Bersahabat dengan Amerika Serikat

Meski ada warga yang mendukung, tidak sedikit pula warga yang takut dengan Taliban meski mereka sudah mengumumkan amnesti umum.

Seorang mantan pegawai pemerintah, yang meminta tidak disebutkan namanya, mengatakan dia telah bersembunyi selama dua minggu karena para militan mencarinya. Dia mengatakan, militan Taliban telah mengunjungi rumahnya dan salah satu rekannya telah tewas.

Legitimasi komunitas internasional terhadap kepemimpinan Taliban sangat bergantung pada komitmen mereka terhadap janji-janjinya. Taliban telah menjanjikan banyak hal, mulai dari membangun pemerintahan yang inklusif dan moderat, jaminan terhadap hak perempuan, pemberian amnesti umum, hingga menjamin Afghanistan tidak akan menjadi sarang teroris.

Salah satu sumber dana potensial adalah Tiongkok, yang pada Selasa, 31 Agustus 2021 meminta dunia membantu Taliban.

“China berharap komunitas internasional harus meningkatkan kolaborasi dan menyediakan bantuan ekonomi, mata pencaharian, dan bantuan kemanusiaan, untuk membantu Afghanistan mencapai perdamaian dan rekonstruksi,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang Wenbin.

Untuk mengelola pengangkutan udara warga asing dan Afghanistan yang kacau, ribuan tentara AS dan negara Barat lainnya kembali dikirim ke Afghanistan, dengan tekanan yang meningkat di Washington untuk memperpanjang tenggat waktu.

Tetapi Taliban, yang sejauh ini berusaha untuk memberikan nada yang lebih moderat, tidak menunjukkan kesediaan untuk berkompromi dengan waktu penarikan tentara AS pada 31 Agustus nanti.