Warga Takalar Sulsel yang Mendadak Kaya Karena Pamukkulu

Warga Takalar Sulsel yang Mendadak Kaya Karena Pamukkulu

Warga Takalar Sulsel yang Mendadak Kaya Karena Pamukkulu – Bendungan Pamukkulu merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang ada di Sulawesi Selatan. Ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2020. Proses tender Bendungan Pamukkulu yang berlokasi di Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan telah selesai menyusul telah ditetapkannya pemenang lelang dari pembangunan Bendungan senilai Rp 1 triliun tersebut.

Kepala Pusat Bendungan Ditjen SDA Kementerian PUPR, Ni Made Sumiarsih mengatakan pembangunan bendungan tersebut terbagi atas dua paket, yang dikerjakan oleh Wijaya Karya, PT DMT dan PT Nindya Karya. Warga Desa Kalekomara, Kecamatan Polong Bangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, mendadak kaya raya, usai lahan pertanian dan perkebunan mereka dibeli untuk proyek pembangunan Bendungan Pamukkulu.

Seorang warga menyebutkan tidak sedikit dari mereka menggunakan uangnya untuk Daftar Live22 membeli kendaraan pribadi. “Iya banyak warga yang langsung beli mobil sama motor karena sudah jual lahannya. Saya baru pulang ke sana juga dua hari pas Lebaran,” kata Ramli, warga Ko’mara.

1. Warga Ko’mara umumnya berprofesi sebagai petani

Ramli mengaku terkejut melihat kehidupan tetangga kampungnya yang jauh berbeda dari sebelumnya. “Bagus sekarang karena sudah ada yang punya mobil, motor paling banyak,” ucapnya. Menurut Ramli, sebagian besar profesi warga setempat dulunya adalah petani. “Ini yang kena pembebasan lahan yang dibeli lahannya kebanyakan warga di atas gunung (bukit) tinggal,” ujarnya.

Namun, tidak sedikit juga warga yang lahannya diganti rugi, tinggal di kawasan dataran rendah. “Jadi dulunya kan tidak sebanyak ini, kendaraan. Sekarang-sekarang sudah banyak. Kendaraan baru juga semua,” terang pria 37 tahun itu.

2. Ada juga warga yang membeli rumah di luar Kabupaten Takalar

Ramli mengaku, sudah hampir setahun meninggalkan kampung halamannya di Ko’mara karena bekerja di Kota Makassar. Pada momentum Lebaran 2021, dia bersama istri dan anaknya pulang kampung. Setibanya di kampung halaman, kabar soal warga kampung yang lahannya dibeli untuk proyek bendungan ramai dibicarakan. “Bahkan, beberapa juga keluarga jauh di situ dibeli juga lahannya,” ujar Ramli.

Menurut dia, dulunya warga di kawasan Dampang Ko’mara, kampung di Kalekomara, bahkan sempat dipandang sebelah mata oleh tetangga kampung lainnya. “Karena kan mereka tinggal di gunung. Tapi sekarang sudah berubah, apalagi dengan lahan dibeli terus beli banyak kendaraan warganya,” kata dia.

Selain kendaraan, warga yang mendapat uang dari penjualan lahan, juga membeli rumah di luar Takalar. Namun sebagian besar dari mereka masih menetap di sana. “Kalau warga di sana kurang lebih sekitar seribuan KK (kepala keluarga) itu,” ucap Ramli.

3. Sekilas tentang Bendungan Pamukkulu
Mendadak Kaya, Warga Takalar Sulsel Ramai-Ramai Beli Mobil dan Rumah

Merujuk dalam data Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Bendungan Pamukkulu rencananya menjadi yang terbesar ketiga di Sulsel setelah Bendungan Bili-bili di Gowa dan Paseloreng di Wajo.

Proyek ini berdiri di atas lahan seluas 640 hektare dengan masa pengerjaan 2017-2022. Proyek ini menghabiskan anggaran Rp1,7 triliun dari APBN dan utang luar negeri. Direktur WALHI Sulsel Muhammad Al Amin mengatakan, 200 hektare lahan bendungan berdiri di kawasan hutan.

Sedangkan, sisanya akan merelokasi tiga dusun di Desa Kele Ko’mara, Kecamatan Polongbangkeng Utara, dengan 312 kepala keluarga terdampak.  Namun dalam pelaksanaannya, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dianggap cenderung tidak peduli dengan hak-hak masyarakat terdampak. “Dari kajian dan investigasi, kami berkesimpulan bahwa pembangunan bendungan masih perlu dikaji, direvisi, dan dipertimbangkan ulang. Karena selain menghilangkan akses terhadap sungai, juga tidak manusiawi dan memiskinkan masyarakat,” kata Amin di Makassar, Kamis, 28 Februari 2019.

WALHI bahkan sempat mendesak pemerintah untuk mengkaji ulang proyek pembangunan Bendungan Pamukkulu. Proyek yang masuk dalam program strategis nasional itu dianggap sarat pelanggaran HAM dan berisiko terhadap kehidupan masyarakat lokal.