WHO Ingin Tiongkok Transparan Dalam Mengungkap Asal COVID19

WHO Ingin Tiongkok Transparan Dalam Mengungkap Asal COVID19

WHO Ingin Tiongkok Transparan Dalam Mengungkap Asal COVID19 – Setelah penyelidikan selama berbulan-bulan, akhirnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan bahwa peternakan satwa liar di China kemungkinan besar menjadi sumber virus SARS CoV 2, yang menjadi pandemi COVID-19.

Peternakan satwa liar ini, banyak di sekitar provinsi Yunnan, China Selatan, dan kemungkinan terbesarnya peternakan ini memasok hewan liar tersebut ke pedagang di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan Wuhan. World Health Organization (WHO) mendesak Tiongkok untuk lebih transparan dalam mengungkap asal usul COVID-19.

Menurut WHO, kerja para peneliti terhambat karena Beijing tidak memberikan data download apk open card idn mentah pada hari-hari pertama virus corona ditemukan. “Kami meminta China untuk transparan, terbuka, dan bekerja sama. Kami berutang kepada jutaan orang yang menderita dan jutaan orang yang meninggal untuk mengetahui apa yang terjadi,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Kamis (15/7/2021)

1. WHO akan mulai membahas soal studi fase kedua
WHO Desak Tiongkok Transparan soal Data Asal Usul COVID-19

Kemudian, berdasarkan penuturan Kepala Kedaruratan WHO Mike Ryan, Tedros akan memberi pengarahan kepada 194 negara anggota WHO untuk studi penelusuran virus corona tahap kedua pada Jumat (16/7/2021).

“Kami berharap dapat bekerja sama dengan rekan-rekan China kami dalam proses itu dan direktur jenderal akan menguraikan langkah-langkah untuk negara-negara anggota pada pertemuan Jumat,” ujar Ryan.

2. Jerman mendesak Tiongkok untuk transparan
WHO Desak Tiongkok Transparan soal Data Asal Usul COVID-19

Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn, yang melakukan pembicaraan dengan Tedros pada Kamis, mendesak Tiongkok agar penyelidikan tentang sumber pandemik COVID-19 tetap berlanjut. Spahn mengatakan bahwa masih banyak informasi yang diperlukan dari Tiongkok.

Kunjungan Spahn ke markas WHO di Jenewa sekaligus mengantarkan sumbangan senilai 260 juta euro (Rp4,4 triliun) untuk program ACT-Accelerator, yang bertujuan memastikan seluruh dunia termasuk negara miskin menerima vaksin COVID-19 dan alat tes.

3. Hipotesis terkuat adalah virus corona bersumber dari kelelawar
WHO Desak Tiongkok Transparan soal Data Asal Usul COVID-19

Sebagai informasi, WHO pada Januari telah mengirim tim gabungan ke Wuhan selama empat minggu untuk mengungkap genealogi virus corona. Hal itu baru dilakukan selang satu tahun COVID-19 ditetapkan sebagai pandemik.

Hasil penelitian di Wuhan belum mampu menjawab asal-usul virus. Namun, para peneliti memiliki hipotesis kuat bahwa virus bersumber dari kelelawar dan disebarkan kepada manusia melalui hewan lain. Mereka belum mengetahui hewan apa yang menjadi perantara.

Adapun hipotesis lain adalah virus corona bersumber dari daging beku yang diimpor dari luar negeri. Mereka juga membantah soal teori kebocoran laboratorium, memastikan bahwa Intitut Virologi Wuhan memiliki keamanan yang sangat tinggi sehingga tidak mungkin ada virus yang lolos.

Para peneliti sempat merekomendasikan untuk memulai studi lanjutan di tempat yang berbeda, termasuk Eropa yang sempat menjadi episentrum virus dan peternakan di sekitar Wuhan, yang menjadi alur migrasi kelelawar.

Lebih lanjut, WHO berencana akan merilis temuannya secara lengkap dalam beberapa minggu yang akan datang, seperti dikutip dari laman Live Science. Pada Januari 2021 lalu, tim ahli WHO melakukan perjalanan ke China untuk menyelidiki penyebab pandemi virus Corona COVID-19.

Banyak teori konspirasi yang merebak dan menduga terkait asal usul virus Corona, salah satu teori menyebutkan jika virus ini dibuat di laboratorium Wuhan secara sengaja, namun penyidik WHO menepis soal anggapan tersebut. Pendapat umum di antara para ilmuwan, yakni virus Corona berpindah dari kelelawar ke manusia dan kemungkinan melalui perantara spesies hewan lain.