WHO Memperingatkan Negara-Negara Kaya Seputar Vaksin Covid19

WHO Memperingatkan Negara-Negara Kaya Seputar Vaksin Covid19

WHO Memperingatkan Negara-Negara Kaya Seputar Vaksin Covid19 – Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, sering disingkat WHO) adalah salah satu badan PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional dan bermarkas di Jenewa, Swiss.

WHO di dirikan oleh PBB pada 7 April 1948. Direktur Jendral sekarang adalah Tedros Adhanom (menjabat mulai 1 Juli 2017). WHO mewarisi banyak mandat dan persediaan dari organisasi sebelumnya, Organisasi Kesehatan, yang merupakan agensi dari LBB. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti negara kaya agar tidak memesan vaksin COVID-19 untuk suntikan booster atau dosis penguat.

Sebab, masih banyak negara miskin yang bahkan tenaga kesehatannya apk idn poker belum divaksinasi. Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan betapa pentingnya pemerataan vaksin di tengah ancaman varian Delta, mutasi virus corona yang pertama kali terdeteksi di India dan diyakini memiliki daya penularan tinggi.

1. WHO sindir Pfizer dan Moderna
WHO Marah, Banyak Negara Kaya Pakai Vaksin COVID-19 untuk Booster

Mantan Menteri Kesehatan Ethiopia itu menyinggung Pfizer-BioNTech dan Moderna, yang mulai meminta izin dari regulator obat agar digunakan sebagai dosis penguat, serta mulai memperkenalkan manfaat dari suntikan booster di beberapa negara.

Alih-alih digunakan sebagai dosis penguat, kata Tedros, lebih baik vaksin Pfizer dan Moderna disumbangkan ke COVAX (organisasi dunia untuk pemerataan vaksin COVID-19), sehingga distribusinya bisa merata.

“Kesenjangan global dalam pasokan vaksin COVID-19 sangat tidak merata dan tidak adil. Beberapa negara dan wilayah memesan jutaan dosis booster, bahkan sebelum negara lain memiliki pasokan untuk memvaksinasi pekerja kesehatan dan mereka yang paling rentan,” beber Tedros.

2. Belum ada penelitian yang menunjukkan urgensi dosis booster
27 Orang Meninggal Usai Divaksin Sinovac, Komnas KIPI: Tidak Terkait Vaksin  - Health Liputan6.com

Kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan mengatakan, WHO belum melihat urgensi dari vaksinasi penguat bagi individu yang telah menerima dosis lengkap. Tidak menutup kemungkinan suntikan booster diperlukan nanti, tapi Swaminathan yakin momennya bukan saat ini.

“Harus berdasarkan ilmu pengetahuan dan data, bukan pada masing-masing perusahaan yang menyatakan bahwa vaksin mereka perlu diberikan sebagai dosis booster,” katanya.

3. Negara yang memesan vaksin untuk booster harusnya malu
Bagaimana Tahapan & Prosedur untuk Vaksin Covid-19 Secara Mandiri - Tirto.ID

Sementara, Kepala Program Kedaruratan WHO Mike Ryan menambahkan, negara-negara yang memesan vaksin untuk dosis penguat seharusnya malu.

“Saat ini, kami mengutuk ratusan juta orang karena tidak memiliki perlindungan. Ini seperti orang-orang yang ingin memiliki kue dan memakannya, kemudian mereka ingin membuat kue lagi dan memakannya lagi,” tutur Ryan.

“Kami akan melihatnya dengan penuh kemarahan, dengan penuh rasa malu,” tutup Ryan, merujuk pada negara-negara yang menggunakan stok vaksin sebagai dosis penguat.

Konstitusi WHO menyatakan bahwa tujuan didirikannya WHO “adalah agar semua orang mencapai tingkat kesehatan tertinggi yang paling memungkinkan”. Tugas utama WHO yaitu membasmi penyakit, khususnya penyakit menular yang sudah menyebar luas.

WHO adalah salah satu badan-badan asli milik PBB, konstitusinya pertama kali muncul pada Hari Kesehatan Dunia yang pertama (7 April 1948) ketika diratifikasi (Ratifikasi) oleh anggota ke-26 PBB. Jawarharlal Nehru, seorang pejuang kebebasan utama dari India, telah menyuarakan pendapatnya untuk memulai WHO.

Aktivitas WHO, juga sisa kegiatan Organisasi Kesehatan LBB (Liga Bangsa-bangsa), diatur oleh sebuah Komisi Interim seperti ditentukan dalam sebuah Konferensi Kesehatan Internasional pada musim panas 1946. Pergantian dilakukan melalui suatu Resolusi Majelis Umum PBB. Pelayanan  epidemiologi Office International d’Hygiène Publique Prancis dimasukkan dalam Komisi Interim WHO pada 1 Januari 1947.